Dari Temasuk Terendah Sampai Mewakili SMA

"Apa apaan ini!!!" Hentak pengawas ujian ke kami, sambil mengambil paksa lembar jawaban ujian kami. 
Aku dan temenku ketahuan contekan. Saat itu adalah UAS semester 1 waktu aku kelas 1 SMA. well akhirnya aku dikeluarin dari kelas. bisa dibayangkan, aku takut banget. Baru semester 1 udah dikeluarin dari kelas pas UAS pula.

Nilai? Tak jauh beda. Aku remidi di 5 pelajaran, matematika, biologi, bahasa indonesia, bahasa inggris, geografi. Semuanya pelajaran penting. Raportku hancur, semester pertama hancur. Fisika dan ekonomi dapet 6, lainnya dapet 7 lebih dikit. Temasuk terendah se-SMA!!!

***

Masa2 kelas 1 SMA terasa berat sekali bagiku. Orang tuaku penghasilannya pas-pasan. Jarak antara rumah dan sekolah 13 km. Uang saku ku 5ribu. 4ribu buat angkot dan seribu buat jajan. Itupun aku harus jalan 2-3 km setiap hari buat sekolah. Kalo ga mau jalan, trus naik angkot lagi, ya ga jajan. Aku lebih memilih jalan kaki 1-2 km dari pada ngasih 500 perak buat supir angkot. Sambil berharap ada temen yang bawa sepeda atau motor kasihan dan ngasih tumpangan.

Jajanpun bisa dibayangkan, jajan apa dengan duit seribu? Sekolahku pulang jam 2, sampai rumah mungkin sekitar jam 3-4. kalo ga mau menahan lapar setengah hari kadang aku ngambil ke ortu duit lebih, apalagi kalo ga sarapan. Beasiswa juga ga dapet, padahal penghasilan ortuku termasuk rendah bila dibanding temen2 sekelas. Malah yang punya motor dapet. Sedih...

Semua terasa begitu berat kala itu.

***

Sering, ketika jalan kaki brangkat atau pulang sekolah aku berpikir: 

"perjuanganku, perjuangan orang tuaku untuk sekolahku sangat berat

Pasti, pasti seandainya mereka melihat aku contekan atau dikeluarin dari kelas, pasti mereka akan nangis

Dan apa yang telah aku berikan? Apa yang telah aku raih? Sama sekali tidak ada"


Aku selalu memikirkan itu. Aku bersyukur Alloh memberiku waktu setiap hari untuk berpikir dan merenungkan nya, dalam bentuk jalan kaki tiap hari. 

***

Semester 2 aku mulai memperbaiki diri. Dan finally, kelas 2, aku masuk kelas ipa-1 sekelas dengan anak2 yang pinter2.FYI pembagian kelas di sekolahku diacak, cuma emang yg pinter banyak yang di ipa-1 dan ipa-2. 

Satu lembaran babak baru dimulai.

***

Diawal kelas 2 SMA, ada seleksi buat tim olimpiade sekolah, setiap kelas diwajibkan mengirim 2 perwakilan tiap mapel untuk diseleksi. Aku sangat ingin ikut, karena konon kalo menang dapet hadiah duit. Buat ngebantu orang tua, pikirku.

ketika pemilihan yang wakil kelas, aku diem saja. Diem karena aku bukan siapa2, dan ga punya prestasi. Dalam hati, aku sebenarnya pengen ikut biologi atau kimia, tapi tiap kelas cuma boleh mengirim 2 anak. Dan 
otomatis 2 mapel itu dah diisi oleh anak2 pinter di kelasku. Sampai pada akhirnya pelajaran astronomi, satu anak dah pasti mewakili sebut aja namanya anto, karena kelas 1 dulu anto udah mewakili sekolah di tingkat 
propinsi. Kurang satu anak lagi, sekelas hening, ga ada yang mau, sampai akhirnya ketua kelas nunjuk "kamu ya?" Aku langsung mengiyakan, dalam hati, aku merasa terhormat ditujuk mewakili kelas, walo mungkin itu awalnya cuma basa basi. ya basa basi.

Tapi aku sangat bersemangat! Aku berusaha sekuat tenaga buat lolos. Aku pinjem buku2 temen, pinjem buku perpus. Aku mulai belajar apa itu astronomi, ngapalin rasi bintang, ngitung magnitudo dll. Dan tibalah saat 
tes. Hei! Aku sangat gugup, aku mewakili kelas!

***

Pengumuman seleksi sudah keluar, dan aku GAGAL TOTAL. saat itu diambil 5 anak, peringkat 1 temen sekelasku, anto itu, peringkat 2-5 adik kelas semua. Aku? setelah aku cocokin, nilainya cm setengah dari peringkat 5.

Miris...

Aku sudah bdrusaha, tapi hasilnya sangat diluar harapan. Sedih pasti, sepertinya aku memang sangat bodoh, bahkan jauh lebih bodoh dari adik kelas. namun, entah kenapa saat itu aku sangat ikhlas. Aku ikhlas bahwa aku telah gagal. Tapi aku ga akan berhenti berusaha membahagiakan ibu dan ayahku,  aku berusaha tetap belajar, demi raportku nanti. Aku mengubah harapanku, aku akan berusaha berprestasi di kelas. 

***

Kelas 2 merupakan lembaran baru bagiku. Di kelas ini, Alloh mempertemukan aku dengan teman2 yang istimewa. banyak anak-anak rohis di kelasku. Mereka selalu ngingetin buat salat atau ngajak aku ikut ta'lim. Aku lebih agamis, walau ga ngerti apa-apa tentang agama. Yang paling nyata adalah, hatiku menjadi tenang dan damai. I feel so comfort...

***

Aku menjalani hari-hari seperti biasa. Aku sudah melupakan kegagalanku lolos dari seleksi olimpiade sekolah. Semua terasa monoton walau aku menikmatinya, sampai pada suatu saat ketika ulangan fisika oleh guru yang baru, aku mendapat 100 bersama dgn 1 anak lain, sebut saja novi, sedangkan semua anak sisanya remed semua, sekelas. Sebenarnya soal dan jawabannya ada di buku/catatan, sehingga aku ga merasa "wah" atau "unggul". Ga ada yang istimewa :-)


***

Hasil kurang memuaskan tim olimpiade sekolah pada suatu olimpiade (aku ga tau siapa penyelenggaranya) membuat guru pembina merombak tim olimpiade sekolah. Karena sebentar lagi adalah olimpiade depdiknas. Ya olimpiade paling prestis. 

Guru pembina datang ke kelas kelas, intinya beliau kurang yakin dgn anak kelas 1, sehingga mengganti banyak anggota kelas 1 dengan kelas 2. Sampai akhirnya beliau ke kelasku dan bertanya "siapa di kelas ini yang pinter fisika?"
Sekelas diem, sampai akhirnya temen2 nunjuk aku dan novi (gara2 kami yang ga remed fisika sekelas). Hey! Apa apaan ini! Aku cuma dapet bagus pas ulangan fisika ya sekali itu!

aku pun menolak, temenku menolak, kita berdua menolak. akhirnya kita ditawari "apa ikut astronomi saja?" temenku tetap tidak mau, aku ragu sebenarnya, aku berpikir sejenak sampai akhirnya mengiyakan. AKU AKAN MEWAKILI SEKOLAH!!!

***

senin pagi habis subuh, aku diantar bapak pake motor. itulah hari dilaksanankannya olimpiade tingkat kabupaten tahun 2008, 9 hari setelah aku ditunjuk pembina olimpiade sekolahku mewakili sekolah. di jalan kami bertemu tukang koran tetanggaku, akupun akhirnya nebeng ke tetanggaku itu, maklum motornya udah 4 tak. bapakku pulang.

aku tidak banyak cerita ke orang tua tentang ini, aku takut mereka berharap lebih, aku cuma cerita kalo akan mengikuti lomba. ya praktis cuma itu.

***

aku sangat gugup, sekarang aku mewakili sekolah dan berjuang bersama temen-temen yang sudah aku anggap "dewa" karena sudah sejak kelas satu mewakili kabupaten, bahkan provinsi. aku minder, keikutanku cuma ditunjuk, asal nunjuk

aku sangat takut kala itu, takut tidak bisa mengerjakan soalnya, takut membuat malu almamater. persiapanku praktis 9 hari setelah ditunjuk. aku takut, aku gugup sekali, mantan dikeluarin dari kelas, mantan remed 5 x pas UAS, mantan pemilik raport yang termasuk terendah se SMA, kini mewakili sekolah!!!

tes pun dimulai, soalnya pilihan ganda semua. sepanjang sebelum tes, ketika tes dan setelah nya aku selalu berdoa agar nilaiku jangan sampai membuat malu sekolah. aku sama sekali tidak punya bayangan untuk lolos ke tingkat provinsi.

tesnya selesai, kegugupanku selesai, tapi aku masih takut, hasilnya belum keluar

***

aku menjalani hari-hari seperti biasa, tanpa ada bayangan atau angan-angan aku lolos. aku sudah melupakannya, tapi selalu berharap, semoga hasilnya ga malu-maluin sekolah. 

***

beberapa hari kemudian, ibalah saat pengumuman, aku kaget dan tidak percaya, temen-temenku tidak percaya.

aku bingung

kaget

namaku ada di urutan paling atas. AKU PERINGKAT SATU OLIMPIADE TINGKAT KABUPATEN!!!

perasaanku? aku tidak percaya. titik. sehingga aku tidak cerita ke orang tuaku, apapun, sedikitpun!!!

sumpah saat itu aku bingung, tidak percaya, aku yang bodoh ini kini sejajar dengan teman-temanku yang aku anggap dewa itu, bahkan melebihi anto (peraih peringkat 1 kabupaten tahun lalu), anto mendapat peringkat 4. 

aku tidak belajar, karena aku tidak percaya. sampai akhirnya wartawan koran lokal datang dan mewawancaraiku, barulah aku sadar, olimpiade tingkat provinsi kurang seminggu lagi!!!

"hidup ini memang tidak adil, tapi Alloh Maha Adil. Dia Maha Tau, Dia Maha Mengatur, semua yang aku alami seperti sangat kebetulan, bagaimana jika ketua kelas tidak menunjukku? bagaimana jika guru fisikaku ga ganti? bagaimana jika aku remidi pas ulangan fisika dulu? bagaimana jika Bapak Pembina tidak merombak tim? bagaimana jika teman-teman tidak menunjukku? semua tampak kebetulan. tapi aku yakin semuanya telah diatur oleh Nya. Tugas kita adalah berusaha, berdo'a dan mengikhlaskan, hasilnya? serahkan kepadaNya, jika kita jujur dan berusaha, apapun hasilnya, kita sudah berada di jalan hidup yang terbaik percayalah........" :)

(bagaimana cerita ketika olimpiade tingkat provinsi? apakah lolos? tunggu bagian II ya hehe)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar